Memang hal ini tak terbayangkan olehku. Apalagi setelah lama aku tidak bertemu Sony lagi setelah dia kembali bekerja. Apakah ini yang dinamakan bagai mendapat durian runtuh.
Pengganti Dirinya
Ceritanya bermula saat aku merasakan kangen pada sahabatku Sony (baca aku dan dia) yang kupikir dia menepati janjinya untuk mengambil sisa cutinya. Sekalian bersilaturahmi sebab aku dan temanku sudah sangat dekat sedari dulu termasuk dengan keluarganya. Akupun merencanakan untuk menginap disana (maklumlah jarak rumahnya denganku kini sangat jauh), setelah semua telah kupersiapkan akupun pergi dengan bus pagi itu.
Diperjalanan sudah dapat aku bayangkan asiknya mengulang kejadian dulu dengan Sony dan bercanda dengan keluarganya yang sangat baik. Karena asiknya membayangkan tak terasa rasa kantuk menghampiriku, akupun tertidur dan baru terbangun saat kondektur bus berteriak kalau bus telah sampai di terminal.
Setelah mempersiapkan barang bawaanku aku akhirnya turun dan memangil becak untuk segera menuju rumah sobatku. Sekitar 15 menit aku berada di becak akihrnya sampailah aku tepat dihalaman rumah yang luas dan terlihat asri dengan bunga-bunga hias yang terawat. Dari dalam rumah aku disambut oleh adik bungsu sobatku Cindy. Aku memang sudah mengenalnya sedari dulu Sambil tersenyum aku mengatakan
"Cin.. mas Sony ada ?" sambil mempersilahkan aku masuk dia
menjawab "loh... mas Iwan nggak tau.." dengan disertai
rasa heran akupun menggeleng. "Mas Sonykan sekarang sudah
bekerja di kota ..... dia dipindah tugaskan disana sekitar
dua bulan yang lalu"
Rasa kecewaku segera menghingap. Tapi rasa itu aku segera kututupi denagan bertanya kepadanya "Kok sepi yang lain
pada kemana ?". "oh... ibu dan ayah pergi kerumah bibi
tadi pagi karena anaknya besok menikah" jawabnya. Perasaan
kecewakupun bertambah "ya... impianku tak seindah
kenyataan dong" bisik suara hatiku.
Belum sempat hatiku berkata lain. dari pintu terdengar suara, dengan sedikit gembira Cindy mengahampiri sipemilik
suara itu "oh... mas Farid, untung mas datang". "memangnya
kenapa ?" tanyanya. "Iya mas.. inikan sudah jam 11.30 aku
mau berangkat sekolah, jadi mas Farid bisa nemani mas
Iwan" balas Cindy. "Sini mas kukenalkan dengan dengan mas
Iwan" Cindy berkata sambil menarik tangan Farid.
Akupun berjabat tangan dengan Farid sambil memperkenalkan diriku. "oh ya.. mas aku mau bersiap-siap ya... udah siang nih!". Sepeningalan Cindy yang sedang bersiap siap untuk berangkat sekolah. Aku dengan Farid ngobrol banyak tentang berbagai hal. Dari obrolan kami kuketahui kalau Farid itu Masih sepupu dengan Sony. Memang ada kemiripan antara
Farid dengan Sony Cuma dia lebih tinggi dari dan lebih gelap kulitnya.
Akihrnya Cindy keluar dari kamar dengan seragam SMPnya dan dia berpamitan "mas aku berangkat ya... kalau mas mau makan didapur masih ada nasi dan beberapa bungkus mie instan, tapi mienya masak sendiri ya..." ucapnya sambil tertawa. "uh.. dasar Cindy masak tamu disuruh masak mie sendiri" Jawab Farid.
Obrolan kami lanjutkan dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 13.00 memang Farid anaknya supel hingga kami ngobrol seperti sudah kenal lama. "Aduh... perutku sudah kukuruyuk nih.., yok kita makan dan tentunya kamu juga belon makan siang kan?" ucap Farid seketika. "kamu
disini aja deh biar aku yang masak mienya" lanjutnya.
Faridpun kedapur, sementara aku masih duduk diruang tamu sambil membaca koran yang tadi aku beli diterminal. Tiba-tiba saja aku terkejut oleh suara farid yang seperti meringis kesakitan "Aduhhh...!!" segera aku menghampiri Farid dan melihat jarinya berdarah karena teriris pisau
sewaktu dia sedang mangiris bawang untuk campuran mie.
Dengan gerak repleks Aku ambil pisaunya dan menghisap jarinya yang berdarah (cara ini sering kulakukan padaku saat hal serupa terjadi, sekedar untuk menghentikan darah yang keluar). Tapi apa yang diluar dugaan Farid malah seperti menikmati hisapan jarinya oleh mulutku. Sambil menutup matanya dia mendesis "sssshhh..sshhhh" mendengar
suara dan melihat expresi wajahnya munculah hasrat mesumku. Jarinya yang tadi hanya satu masuk dalam mulutku kini telah bertambah menjadi dua jari dan bahkan kini telah tiga jari yang kuhisap. Dan kurasakan dia semakin menikmati hisapan jarinya.
Dan sekarang aku lebih gila lagi dengan menciummi dan menjilat-jilat pungung tangannya yang kurasakan sedikit asin oleh keringatnya, tapi aku suka dengan rasa asin itu. kemudian Farid mengagkat kepalaku sehinggah wajahnya bertemu dengan wajahku. Dan kulihat kumis dan jambangnya yang membiru sehabis dicukur. Belum puas kupandang
wajahnya tiba tiba saja rasa hangat menjalar dari mulutku, saat kuketahui bahwa bibirnya kini telah bertautan dengan bibirku. Lumatan dan hisapan bibirnya sepertinya hendak membalas hisapankau pada jarinya tadi. Kini tak hanya dia yang melumat bibirku akupun mulai melancarkan aksiku dengan melumat bibirnya yang disusul oleh hisapanku pada lidahnya yang sengaja dimasukan kemulutku.
Seketika kami tersadar oleh perbuatan kami, kami lupa menutup pintu depan dengan setengah berlari aku keruang tamu untuk menutup dan mengunci pintu. Saat aku kembali kedapur kulihat Farid melanjutkan memasak mie. "Nanti ya... kita lanjutkan lagi setelah mie ini selesai dimasak dan makan siang". Akupun menganguk walau rasa lapar yang tadi kurasakan telah hilang dan berganti hasrat yang mengebu-gebu.
Setelah selesai makan mie yang dimasak, Farid bangkit Kewastafel (tempat cucian piring) untuk mencuci piring. Aku hanya bisa menelan ludah saat melihat dia dari belakang. Tapi memang hasratku yang sudah tak terbendung lagi segera kuhampiri dia dan memeluk tubuhnya dari
belakang sambil kucim dan kuhembuskan hawa panas dari hidungku kelehernya. Kembali kucium dengan nafsu seluruh lehernya dan ciuman kugantikan dengan menyapu kupingnya dengan lidahku, setelah kupastikan kuping tersebut tidak ada lagi yang tersisa oleh sapuan lidahku kini daun telingga itu kuhihisap dan kugigit dengan kedua bibirku.
Perlakuanku mendapat reaksi darinya, piring yang tadi dipegangnya kini diletakkan dan tangannya kini membimbing tanganku ke arah kontolnya yang masih terbungkus oleh celana jeans birunya. Sambil terus mencium dan melumat kupingnya tangankupun kini mulai aktif mengusap usap kontolnya yang kurasakan sudah menegang. Sementara kedua tangan Farid kini mulai membantuku untuk membuka sabuknya dan kancing celananya sendiri. Akhirnya dengan sedikit paksa jeans yang dipakainya kini mulai dapat kupelorotkan. Masih dari posisi belakang kembali kupegang kontol miliknya yang dapat kurasakan kepalanya yang menyembul dibelakang cd miliknya.
Karena merasa tidak puas kubalikan badannya sehingga wajah kami bertemu kembali. Kini ciumanku mendarat kekening yang
menjalar pada mata pipi sampai hidungnya yang tak luput dari ciumanku.
Sementara tanganku mulai membuka kaos putih miliknya. Tangan milik Faridpun kini mulai membuka kancing kancing kemeja coklatku. Kini Farid tinggal memakai cd setelah kaosnya berhasil kulepas dari tubuhnya. Baru
kusadari ternyata Farid memilik tubuh yang begitu indah dengan dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan perut yang berkotak kotak. Perut indah itu dihiasi pula dengan bulu-bulu halus teratur yang tumbuh dari pusar hingga terus kebawah seperti menunjukkan keperkasaan kontolnya.
Ciumanku kini kualihkan pada puting kiri yang kurasakan sudah mulai keras, kucium dan ku gigit pelan, erangan nikmat keluar dari bibir merahnya "ehm....ehmmmm Ahhh..." sementara tangan kiriku meremas puting kanan dan tangan kananku sudah berhasil memeloroti cd yang sudah sedikit basah oleh cairan percumnya. Ciumanku menjalar keperutnya dan berhenti sesaat untuk memainkan lidahku pada pusarnya. Erangan indah itu pun keluar lagi dari mulutnya.
Kuangkat tubuhnya keatas pingir wastafel dan aku berjongkok untuk dapat meraih kontol miliknya. Kontol besar yang sudah tegak itu langsung saja kumasukan kedalam mulutku rasa asin dan gurih kini kurasakan karena cairan percum milik Farid. Kini kontol itu kukocok dengan mulutku sendiri berkali kali "Ahhhh..... Ahhhhh Ahhhhh aaaa.." suara itu membuat aku semakin bersemangat untuk mengocok kontol besar miliknya. Kini tak hanya mulutku yang aktif tanganku pun kini meremas-remas buah berkantung coklat itu. Kulepaskan Kocokanku sekarang giliran lidahku yang bermain di sekeliling kepala kontolnya. Kumainkan pula lidahku di lubang kencing miliknya.
Sambil bersuara tak teratur dia begelinjang "Ahh... ahh..... masukan dong lagi mulutmu Wan!!" pintanya. Tanpa merasa dipaksa kembali kumasukan kontol itu kemulutku, kukocok dan kuhisap kuat. Kocokanku diimbangi oleh gerakan-gerakan pantatnya. Hampir saja aku tersedak saat
kepala kontol miliknya menyentuh tenggorokkanku. Saat kurasakan kontol miliknya mulai berdenyut dimulutku, kocokan dan remasan tanganku kepercepat dan sampai pada akhirnya creet... creet.. creett cairan hangat dan kental keluar dari kontolnya memmenuhi mulutku bersamaan dengan eluhannya "oh.. ya... ya...ehm... ah...." kembali kuhisap kuat untuk menguras cairan nikmat itu. Setelah kupastikan cairan itu habis kukeluarkan kontol yang sudah mulai menyusut dari mulutku sambil kubersihkan sisa-sisa seperma yang tertinggal tepat dilubang kencingnya dengan lidahku dia bergeter merasa geli dan ngilu atas permainan lidahku.
Faridpun tersenyum puas dengan tindakanku tadi. Lalu dia turun dari wastafel dan dengan segera membisikan kata di telingga kiriku "terima kasih... kau telah membuat siang ini begitu indah Wan!". Bisikan itupun disusul dengan ciuman hangat yang ia daratkan dibibirku, ciumannya kini semakin melumat bibirku sepertinya ia juga ingin merasakan
spermanya yang tersisa dimulutku.
Ciuman yang kini dia teruskan dengan sapuan-sapuan lidahhya keleher dan terus kebawah sampai kurasakan kinhangat bibirnya menghisap putingku bergantian kanan dan kiri. Tanpa kusadari erangan dan desahan keluar dari mulutku sambil kujambak pelan rambut hitam ikalnya. Erangan itu terus saja keluar dengan sendirinya dari bibirku apalagi saat dia mulai jahil menggigit pelan putingku "ohhh... aahhhhh... ahhh... geli Rid" ucapku. Bukan hanya putingku yang habis dilumat dan disapu lidahnya kini dia beralih ke ketiakku yang sengaja bulu-bulunya kubiarkan memanjang. "Oh... aroma ketiakmu membuatku kembali Horny wan apalagi bulu-bulu ini" ucapnya sambil terus mengesek-gesekkan hidungnya dikeketiakku, tentu saja hal ini membuatku menjadi geli. Kini farid kembali menyapu dadaku dengan lidahnya dan hampir seluruh tubuhku kini basah oleh sapuaan lembut lidahnya.
Sementara tangan terlatihnya telah berhasil membuka celana dan cd yang kukenakan. Maka dengan segera kontolku yang sudah sesak sedari tadi kini dapat merasakan hangatnya suasana dapur. Dengan posisi berlutut kini kontolku yang sudah mencapai ukuran maksimal tidak luput dari sapuan lidahnya. Aku berpikir "rupanya Farid ahli dalam memainkan
lidah". Karena merasa nikamat yang dia berikan akupun akhirnya mendorong tubuhnya sehingga dia kini jatuh diatas lantai telentang dihadapanku, segera saja tubuh indah yang sudah bersimbah keringat kutindih hingga kontolnya dan kontol ku terasa saling bersentuhan. Sementara mulut kami saling memberikan ciuman hangat bergantiaan.
Kini kakinya kurenggangkan lebar sehingga napaklah dengan jelas lubang anusnya yang merah dan dikelilingi oleh jembut-jembut halus. Dengan sigap kumainkan lidahku dilubangnya, kutusuk, kujilat dan sekali kali kumainkan jari tengahku kedalam. Terdengar suara merancau dari mulutnya, kurasakan pula bau khas lelaki macho yang menusuk hidungku. "sssshhh.... ssshh .... " suaranya membuat aku lebih gila lagi menjilat lubangnya yang ku barengi dengan kocokanku pada kontol yang sudah kembali menegak seperti tombak.
Cukup lama kumainkan lidahku dianusnya kini aku meminta kepadanya "Boleh... aku masukan kontolku kedalam Rid ??" tanpa suara dia menganguk sambil tersenyum. Segera kuambil posisi dengan mengangkat kakinya dan kuletakan dipundakku. Kini tanganku kubimbing menuju lubang yang sudah menanti. Rupanya tidak terlalu susah aku memasukan kontolku kedalam, karena anusnya yang basah oleh lidahku tadi juga cairan percum yang membasahi kontolku, tentu saja ini sangat membantuku. Terdengara ringisan kecil dari bibirnya saat kepala kontolku telah berhasil masuk. "ooww.. teruskan saja wan nggak pa-pa kok!!" dorongankupun kulanjutkan setelah mendapat restu darinya. Kini kontolku telah habis dalam anus sempit miliknya, kembali tercipta sensasi yang luar biasa saat itu. Kontolku dipijat dan dijepit oleh daging hangat miliknya. Segera saja kumaju mundurkan pantatku sambil tangan ku masih aktif pula memberikan elusan dan kocokan pada kontolnya. Gerakanku pun kini semakin kupercepat sehingga timbul suara pleek...
pleek.. dari kantung pelirku yang mengenai pantat Farid.
Rasa yang sudah lama aku rindukan dengan Sony akhirnya dapat kurasakan dengan Farid sepupunya, hatiku berkata "Maaf... Sony aku kini menikmati permainan mesum ini bukan hanya dengan kau tapi juga sepupumu". Hentakanku pada lubangnya kini seirama dengan gerakan pantatnya. Dan rasa nikmat yang amat sangat kuraskan dari ujung kaki sampai keubun-ubunku saat kepala kontolku mentok dalam lubang nikmat milik Farid. Tak kuhiraukan lagi erangan dan desahan yang keluar dari mulutnya, tapi aku yakin kalau dia juga merasakan nikmat dengan kentotanku dan kocokan kontolnya yang kubuat. "ya... ya.. ah... ah... ah... lebih cepat wan" pintanya maka gerakan yang kulakukan lebih cepat dan kuat. Sampai tak terasa tubuh kami sekarang mengkilat karena dibasahi peluh.
kulihat Kontol milik Farid kini memiliki kepala yang sudah berwarna merah keunguaan dan dapat pula kurasakan kontol itu berdenyut di tanganku, aku tahu dia akan keluar lagimaka kocokanku tanganku pada kontolnya semakin kupercepat sementara kontolku bermain pelan pada lubangnya. "aku mau keluar lagi Wan.." katanya pelan dan "ooohhh...ahhhh.... ahhhh... ahh..." bersamaan dengan itu creett..... creet... creettt..kembali kontol milik Farid menyemburkan lava putihnya. Kini Farid terkulai lemas sementara aku masih melanjutkan sodokanku pada duburnya. Saat ini aku yang merasakan kontolku yang berdenyut-denyut dalam lubangnya, segera kucabut kontolku dari duburnya dan aku bangkit menyodorkan kontolku kemulut Farid, segera kumasukan kontolku dalam mulutnya tangan Farid kinipun membantuku mengocok kontolku. Rasa berdenyut yang hebat dan kurasakan pula kalamaniku sudah berada diujung kontolku "ahhh... ah.... aaaaa..." creet... creettt.... crettt cairan nikmat milikku kini tumpah dalam mulut Farid seketika itu pula rasa hangat dan nikmat yang tiada duanya menjalar keseluruh tubuhku. Cairan kental milikku kurasakan habis tanpa sisa dalam mulut Farid. Aku mengelinjang kegeliaan saat Farid menghisap kepala kontolku yang baru saja mengeluarkan cairan nikmat milikku.
Kulihat ada senyum bahagia di wajahnya saat kukecup keningnya. Kamipun bangun dan mengambil pakaian kami yang berserakkan dilantai dapur. Kami mandi untuk membersihkan tubuh kami, dari perpaduaan keringat dua insan yang saling menempel ditubuh kami. Saat mandi kami memang kami saling membersihkan dan mengosok badan kami bergantiaan, tapi kami tidak melanjutkan permainan yang lebih karena kami sudah lelah saat itu. Faridpun berjanji "nanti malam saja kita lanjutkan kembali aku takut Cindy segera pulang" akupun menganguk tanda setuju dan berfikir "Gila... nih anak maniak banget dia".
Setelah selesai mandi kamipun membersihkan lantai dapur yang telah kami kotori dengan permainan kami. Aku berjanji pada Farid untuk menyerahkan duburku padanya nanti malam. Dan kami saling berjanji untuk merahasikan hal ini Pada Sony. Kini telah kutemukan pelepas rinduku padamu Sony, tolong maafkan dan fahami aku. Bagi Pembaca semoga kalian puas dengan ceritaku kuharapkan kritik, komentar, saran dan yang sekedar ingin berkenalaan tetap kutunggu di
emailku ondel79@plasa.com. See you..