rubrik : profil
Pria kelahiran 10 Mei 1973 ini mulai dikenal orang lewat perannya sebagai gay di film Arisan! Ia pun sukses menyabet Piala Citra sebagai aktor terbaik 2004. Ssstt...aktor yang main di acara Extravaganza ini ternyata pernah nggak pede main film gara-gara punya banyak tatto lho!
Taura Danang Sudiro
Aktingnya memang jempolan. Perannya sebagai gay terlihat menjanjikan apalagi untuk ukuran pemula. Saat film Arisan! diluncurkan, orang-orang pun mulai bergosip : apakah ia betulan gay di kehidupan nyata? Gosip atau bukan ya? Wah daripada iseng main tebak mendingan ikuti saja perbincangan dengan Tora, panggilan akrabnya, yang saya kutip dari Cosmo dan Nova. Seperti apa pria yang sudah punya anak satu ini?
Bagaimana anda pribadi menilai kaum gay?
Sekarang orang sudah lebih terbuka dengan pilihan seksualnya. Dan menurut saya, mereka bukan suatu penyakit yang harus dimusuhi. Malah saya berpikir kaum gay itu sangat kreatif karena kedua sisi otak mereka digunakan dengan baik.
Kata orang, gay is a girl’s best friend. Benar tidak sih?
Benar! Seperti saya bilang, kaum gay memakai kedua sisi otaknya dengan baik. Tak heran mereka sangat mengerti wanita. sedang pria normal belum tentu bisa seperti itu.
Bagaimana perasaan anda saat mencium pria di film itu?
Yang bikin takut bukan karena saya harus mencium pria. Tapi yang saya takutkan justru apa yang akan terjadi setelah kejadian itu.
Maksudnya anda takut punya kecenderungan gay juga?
Ya, itu yang saya takutkan (tertawa). Tapi ternyata begitu kejadian ciuman itu selesai akhirnya saya bernapas lega. Yang saya takutkan tidak terjadi. Ternyata lebih enak sama wanita ya (tertawa).
Perlu observasi khusus untuk berperan sebagai gay?
Aku dikasih waktu 3 bulan untuk mengeksplorasi karakterku. Eksplorasinya sih nggak kayak Surya. Kalau dia kan di film itu berperan sebagai gay sejati. Jadi dia perlu eksplorasi ke klub khusus gay. Kalau aku nggak. Kalau aku cuma dikasih film yang berjudul The Broken Hearts Club yang bercerita tentang 6 orang gay. Di film itu ada berbagai karakter gay. Teteh Nia (sutradara) menunjukkan kepadaku seorang karakter gay yang mirip dengan karakterku.
Apa adegan tersulit di film itu?
Yang pasti adegan ciuman dengan Surya karena hawanya berbeda. Waktu pertama kali ciuman, aku pasrah dan harus siap total. Begitu dideketin Surya, aku merem dan nggak berani lihat dia. Duh nyium cowok, ujarku dalam hati. Setelah ciuman, aku melek. Adegan itu diulang sekitar 10 kali.
Bikin stres enggak?
Awalnya sih stres. Tapi lama kelamaan cuek aja.
Waktu ditawari peran sebagai gay, apakah kamu langsung menerima?
Tahu nggak, ketakutanku cuma satu, yaitu peran ini enggak akan hilang alias menempel di aku terus. Tapi ternyata menyenangkan. Ha..ha..ha...Setelah ngobrol sama istri dan teman-teman, aku menerima dan berpikir, ya udah lah. Pokoknya kalau aku bisa main bagus pasti jadinya akan bagus banget. Tapi kalau jelek ya akan jelek banget. Aku pede aja.
Peran apa lagi yang ingin kamu coba?
Apa ya? Gara-gara Extravaganza, semua peran udah terjawab. Jadi banci udah. Jadi psikopat udah. Jadi cewek juga udah. Namun kalau di Extravaganza kan cuma buat lucu-lucuan dan memang belum ada yang didalami. Aku memang pengen peran yang berwatak aneh-aneh.
Kok suka bikin tatto?
Aku bikin tatto sejak kelas 2 smp. Mulanya sih iseng bikin tatto bareng anak band. Aku dulu kan ikut main band beraliran rolling stone. Kata adikku yang pernah iseng ngitung jumlah tatto ku, aku punya 47 tatto.
Lantas nggak takut dapat penilain negatif dari orang lain?
Pendapat negatif sih pasti ada ya. Tapi sekarang kan jaman keterbukaan. Kita nggak bisa menilai orang dari luarnya saja. Di dalamnya siapa tahu lebih matang. Orang yang di luarnya bagus belum tentu di dalamnya juga bagus. Ya nggak?
Bagaimana mendapat peran tanpa tatto?
Awalnya sempat panik. Gimana caranya nih, tatto segini banyak. Gimana caranya kalau harus berperan memakai baju lengan pendek? Persoalan ini terjawab juga dalam film Banyu Biru. Tanganku cukup di make up dan dikasih foundation.
Anda percaya pada kata-kata love at the first sight?
Hmm...kalau cinta, mungkin tidak! Tapi, suka pada pandangan pertama, ya. Menurut saya, orang bisa sampai jatuh cinta itu butuh proses. Tidak hanya sekali melihat.
Kamu termasuk tipe romantis?
Tidak juga! Saya tak pernah berpikir untuk kirim kartu, bunga atau tanda cinta.
Jadi wujud romantis apa yang anda lakukan?
Apa ya? Mungkin dengan memberi perhatian lebih dan waktu yang lebih. Itu saja!
Dani
Maret 2005